Feeds:
Posts
Comments

Astagfirullahiladziiim…

Pantaslah aku beristigfar lebih banyak lagi karena sepertinya aku lupa akan adanya yang Maha Mengatur…
Bukankah semua ini ditetapkan olehNya sehingga hendaknya aku tak perlu berkelu kesah terlalu banyak???
Bukankah aku hanya pelakon untuk cerita ini, pahit atau manis, aku hanya perlu kelapangan dada untuk melaluinya dengan tertib?
Kenapa harus tertib? agar tak seradak seruduklah…
Ladang ini terlalu luas untuk kurawat agar terbitlah bibit-bibit unggul.
Ya Allah, Yang Maha Kuat, berilah hamba kekuatan itu agar dapat mencangkul dengan baik di ladangMu ini..amiiinn.

Setelah tau kalo aku sudah bukaan 5, ada perasaan lega kalo ternyata kesabaran kami semua tak sia-sia.
Jam 7 malam, eh malah udah bukaan 8 yang mana artinya tak lama lagi waktunya. Cepat-cepatlah aku mandi dan ganti baju yang udah mulai apek biar segeran dikit nyambut si baby. Ibu Brenda n Ibu Robin pun Pamit pulang mau mandi juga. Sempat juga aku nyeletuk:”I don’t want to make it until midnight..”. yang langsung dijawab Ibu Brenda:”I wish before midnight.” :smile:

Tanpa ada perasaan curiga atau kuatir, tau-tau jam 8 malam, aku sudah mulai makin sakit, ibu Brenda datang tapi wajahnya tak biasa lagi. “Rima, I am sorry. We need to move now.”
Aku kaget: “what do you mean by moving?”
Ibu Brenda: “hmmm, the chairperson of this place doesn’t want to take risk on your labour so you need to find another place. Will you go to Hospital in Denpasar? It’s up to you.”
Aku langsung down :cry:
Suami udah mandangin aku yang terbungkuk-bungkuk kesakitan. Tanpa pikir panjang, dia langsung packing semua barang. Aku hanya bisa menangis…
Ibu Brenda: “Come on, Rima… I try to contact Dr. Hariyasa in Denpasar but his number is off so…”
Aku: “I don’t know what should I do now. Why can’t give me a chance after I stay this long. It’s already opening 8. You say we’ll make it before midnight. Where is ibu Robin? She can’t help me either.”

Ibu Brenda sempat kebingungan dengan tudinganku tapi dia tetap menenangkan aku. Sedangkan suamiku sudah mulai ndak tega melihat aku yang berjalanpun sudah tak sanggup akhirnya ingin segera mengakhiri semua dengan melarikan aku ke rumah sakit terdekat dan ambil cesio kalau kalau dokter di sana tak mau membantuku normal.
Tapi aku tetap tidak mau secara aku sudah kesakitan dari subuh dan coba menata semangat ini harus dihancurkan hanya dengan penolakan penanggung jawab tempat itu.
“Try to contact the hospital where dr. Hariyasa works…” tiba-tiba aku punya ide dan akhirnya berhasil menghubunginya. Tapi pertama-tama dokter menolak untuk membantu persalinanku dengan cara normal water birth karena ya itu too risky.

Lagi-lagi aku meyakinkan dr. Hariyasa melalui Ibu Brenda yang saat itu menelponnya kalau aku coba dulu kalau sampai titik membahayakan aku siap sedia untuk di operasi.
Segera tanpa basa-basi aku dilarikan ke rumah sakit Harapan Bunda yang letaknya di tengah kota Denpasar, jaraknya dari Ubud kira-kira 45 menit perjalanan tapi dengan kondisi tangan suami yang hanya menyetir dengan satu tangan lumayan memakan waktu lebih lama sedikit.

Ditemani ibu Brenda dan Ibu Robin (without them aku ndak tau apa jadinya…) and of course Allah which never stay apart from me…aku sampai disana jam 9 malam. Setelah itu aku melakukan pemeriksaan dan Alhamdulillah bukaan sudah mencapai 9. Itu artinya tidak lama lagi.
Pihak rumah sakit menyiapkan air di kolam dan segera aku berganti kostum yang disediakan rumah sakit dan langsung “byuuuurrrrrr”
Enak, seger… airnya hangat. Saat menulis ini aku bisa bilang begitu secara saat melahirkan aku hanya bisa beristigfar kenceng dan memanggil nama mama yang kebetulan tak menemaniku. Apalagi aku tak pernah melahirkan normal so lumayan nervous juga menjelang detik-detik aku harus mengedan.

Saat-saat itu tidak akan pernah kulupakan. Aku yang dipangku suamiku terus-terus memohon pada Allah diberi kemudahan dan tepat jam 11.15 bayi itu lahir dan dia seorang jagoan. Berkah-Mu terlalu banyak ya Rabb.
Benar baru aku merasa bahwa IBU itu segalanya… :oops:

Begitu bayi keluar saat bersamaan aku merasa kehilangan sesuatu..sampai kupikir aku sudah meninggal. He he he inilah karena tak pernahnya merasakan melahirkan normal :lol:
Tak ada satupun dalam ruangan itu yang tak menitikkan airmata.
Dokter Hariyasa bilang ini mukjizat, ALLAHUAKBAR. Thanks ya Dok for the chance you gave for me.
Yach, ini mukjizat.

Sujud syukurku pada-Mu Allah atas segala rahmat dan berkah yang Kau berikan padaku.

Terima kasih juga buat suamiku tercinta yang tak sedetik pun meninggalkan aku. :grin:
Aghniya dan Afina, karena kalianlah Mama bisa melalui semua kesulitan ini. Terima kasih ya nak. :smile:

Terima kasih buat Ibu Brenda dan Ibu Robin yang memberikan motivasi dan semangat sampai aku bisa. :wink:

Mama, finally I know how hard is being a mum… May you apologize for all mistakes I did… :cry:

Berikut ini gambar tempat water birth. Hanya tiga foto, ini juga dijepret setelah mau pulang. Sampai tak sempat memikirkan dokumentasi loh. Juga foto-foto jagoan cilikku pas di hari ke-2 kelahirannya.

Alhamdulillah… Allahuakbar… terus saja aku ucapkan karena tak ada lagi kata-kata yang pantas diucapkan atas berkah Allah ini. :grin:
Akhirnya penantian ini berakhir. Sudah sempat ketar ketir karena takut juga aku ini menyalahi takdir karena banyak dokter sudah mengultimatum kalo aku ini ndak bisa melahirkan normal. Mengingat aku sudah 2 kali cesio dan jarak kehamilan ke-2 dan ke-3 ini cukup dekat maka saran dokter aku tetap harus cesio lagi.
Awalnya aku setuju aja malah sudah pilih tanggal untuk cesio. Itu pun dengan catatan usia kehamilan dikurangi 1 minggu dari due date. Hmmm… aku mengiyakan saja apa yang dokter katakan.
Sampai bulan Ramadhan kemarin, aku ketemu sama Bidan Brenda di kliniknya yang baru saja dibuka di Denpasar. Beliau kebetulan salah satu bidan di Yayasan Bumi Sehat Ubud yang memiliki program “anak alami” yaitu melahirkan dengan water birth.

Ngobrol-ngobrol dan aku ceritakan kondisiku, beliau sepakat untuk diskusi dulu dengan partnernya di Ubud. Kalo Ibu Robin (partnert Ibu Brenda di Bumi Sehat) sanggup maka aku akan melahirkan dengan normal tapi tetap dengan catatan aku siap dirujuk sewaktu-waktu ke rumah sakit.
Berbekal note dari dokter kandungan yang tegas menyatakan resiko tinggi jahitan di dalam terbuka jika aku mencoba normal, aku mulai cek rutin dengan Ibu Brenda. :smile:

Jujur nih, beliau berdua memberikan rasa nyaman dan aman :wink: ketika aku datang dan konsultasi. Segala resiko dibicarakan tapi tetap menumbuhkan kenyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak. :neutral:

Setelah molor dari tanggal 13 November 2009 dimana menurut dokter itu minggu-minggu rawan kalo kandunganku tidak segera dioperasi… kuatir bayi mendesak dan jahitanku robek… akhirnya aku mulai merasakan kontraksi hari Kamis, tgl 19 November 2009. Berangkatlah aku ke Ubud ditemani suami yang tangannya belum pulih (read: Suami VS Rabies).
Disana aku diperiksa kebetulan dengan 2 bidan lokal :evil: yang respon dari awal menolak kehadiranku. Dianggapnya aku ini terlalu nekad. Aku pun tahu kalo banyak orang udah ketar ketir tapi aku pengen berusaha dulu.
Ternyata belum ada tanda apa-apa. Aku kembali ke Denpasar dan kembali lagi ke Ubud sorenya, dan kembali lagi ke Denpasar. Pokoknya hari itu aku tiga kali bolak balik Ubud – Denpasar. :cry:
Alasannya aku ngga pede dengan kontraksi ini + aku juga mulai kuatir ada apa-apa dengan perutku.
Jum’at dini hari, aku mulai kontraksi lumayan lebih keras dan ada flek darah. Aku pikir inilah saatnya. Subuh aku langsung ke Ubud dan periksa… ternyata baru bukaan 1 sempit. :???: Istilahnya bu Bidan yang tugas jaga pagi itu menandakan bahwa the journey is still too far away. Aku punya masalah retur yaitu mulut rahim yang di belakang dan itu yang menyebabkan aku harus cesio pada 2 kehamilan sebelumnya (menurut dokter saat itu).
Nah, modal kenekatan aku tetap keukeuh mau bertahan. Semakin siang rasa mulesnya bertambah dan aku yang didampingi suami siagaku tetap mencoba bersabar. Beberapa kali Ibu Brenda datang dan memberi semangat. Sempat juga sih kami mengira-ngira kalo sampe sore tak berkembang juga bukaannya berarti aku siap dirujuk ke rumah sakit. But well diperiksa jam 4 sore, ternyata sudah bukaan 5. :wink)
Hmmm, mau tau sakitnya… sakiiiiiiiiiiiiiit sekali (he buat yang lagi hamil, ini tak bermaksud menakuti loh)
to be continued…

My hubby vs Rabies…

Judulnya serem yach… Kenapa juga my hubby versus rabies :roll: gene neh ceritanya. Sabtu minggu lalu, seperti biasa kita awali dengan breakfast di rumah cinta kami :smile: Secangkir indocafe hangat dan roti panggang sambil melihat tingkah centil dua putri kami (aghniya n afina).
Setelah itu, aku punya ide untuk jalan-jalan ke Ubud sambil melihat lokasi water birth (rencana tempat melahirkan anak ke-3 kami).

Suami teringat kalo hari itu dia masih harus ambil stok Mandala 525 di Distributor dan isi freon AC mobil biar nyaman di perjalanan nanti siang. Tanpa menunda lama, suami bergegas ke garasi memanasi mobil dan aku pun ngacir ke dapur… biasaaaa masak buat si buah hati. Lumayan lama aku masih denger suara mobil dan hatiku udah mmbatin “kok lama ya manasin mobil” :?: tapi aku tak sempet melihat ke depan coz gorengan sedang in the process.
Beberapa menit kemudian, si mbak (pengasuh anak2) masuk dan bilang: “Bu, liatin bapak dulu.”
“Loh, ada apa…” (aku sudah lumayan kaget) :shock:
“Ngga tau, bu tadi bapak tiba-tiba jatuh dan sekarang ada di rumah Pak Hardono (tetangga depan rumah).”

Ndak pikir panjang, aku lari ke depan dan benar saja disana suamiku udah meringis kesakitan. Aku juga lihat kalo siku tangan kirinya sudah mulai bengkak.
Histeria donk aku: “Ada apa, hon?”
Suami: “itu tadi aku ngusir anjing.”
Aku: “Ngusir gimana?!! Kok sampe begini?”
Suami: sambil meringis “Iya, tadi mendadak ada anjing diam-diam mendekati dan aku usir pake kemoceng. Ehhh, dia malah merespon seperti mau nerkam. Aku mundur-mundur dan anjing itu terus ngikutin tapi karena ngga seimbang aku jatuh dengan tangan kanan berusaha ngusir anjing itu. Aku yakin kalo itu anjing rabies soalnya ngga ada suaranya…”

Apalagi yang aku bisa perbuat selain menggeleng-geleng kepalaku atas kekonyolan ini :cry: Bagaimana ngga konyol wong dia harus menjadi suami siap antar jaga mengingat kandunganku sudah masuk harinya.

Walhasil, setelah di rongsen baru ketahuan kalo ada tulang sikunya yang retak dan butuh waktu untuk penyembuhan :sad:
Aku masih ndak abis pikir kenapa bisa tapi memang selebihnya itu Allah yang menentukan.
Untuk yang laen mungkin aku cuman bisa saranin kalo melihat anjing, ambil posisi jongkok seakan-akan mengambil batu. Insya Allah anjing itu akan segera berlalu. Jangan pake kemoceng karena bisa jadi anjing itu pikir yang di depannya ayam gemuk yang siap disantap :mrgreen:

Aku Ingin…

Monday, February 9, 2009

Ya Allah, ijinkan aku bicara dengan-Mu
hari ini, aku tidak ingin melukai-Mu
tapi aku ingin bicara apa adanya dan tidak berbohong

aku ingin sekali tidak mengeluh
tapi kenapa kata-kata ini serupa keluhan

aku ingin sekali tidak menangis
tapi kenapa suara ini terdengar sedu sedannya

aku ingin sekali tidak membenci
tapi kenapa aku tidak bisa mencintai

Ya Allah, ijinkan kutumpahkan isi hatiku pada-Mu
karena hanya Engkau yang membiarkan aku
bicara seperti ini

aku ingin sekali bersimpuh
mencucurkan air mata ini
hingga aku lelah dan terlelap di cinta-Mu

ya Allah,
aku ingin sekali memiliki hati
seluas langitmu
sehingga raga ini bisa berteduh damai

aku ingin sekali memiliki lisan
yang selembut Aisyah
sehingga sejuk untuk didengarkan

aku ingin
aku ingin…
aku ingin…

aku sebenarnya tidak tahu
apa lagi yang aku inginkan
karena sempurna sekali yang telah
Engkau tetapkan…

Tak Mau Kalian Sepertiku…

Thursday, February 12, 2009

setiap saat aku melihat wajah mungil
seperti langit yang menawarkan keteduhan
disana ada kejujuran yang kecil
tak sama dengan apa yang kusimpan

aku ingin memeluk
dan memahami semua yang kalian rasa
aku ingin mereguk
manisnya saat kita bisa bersama

harapanku menjadi yang terbaik
seperti penjaga bagi putri cantikku
aku ingin kalian bangga
tapi aku tak mau kalian sepertiku

ROTI PANGGANG LAPIS KEJU

Bahan:
Roti sisir siap pakai 1 bungkus
Susu Dancow 5 sdm
Tepung terigu 1/4kg
Telur 3 btr
Blue band 4 sdm dicairkan
Santan Kara 1 sachet kecil
Bawang Bombay 1 buah diiris tipis
Bawang putih 5 siung dikeprek
Paprika Hijau 1 buah diiris tipis
Tomat buah 2 buah diris bulat tipis
Daging Sapi cincang 1 cangkir
Merica ¼ sdt
Bawang pre 4 batang diiris tipis
Keju parut 1 cangkir
Saus tomat sesukanya
Saus Lombok sesukanya
Vanilie, garam secukupnya
Air secukupnya

Cara:
1.Campur dan cairkan tepung, susu, telur ditambah vanilie dan garam sambil terus diaduk. Tambahkan blueband dan santan ke adonan lalu diberi air sedikit demi sedikit sampai adonan cair (lebih kental dari adonan dadar).
2. Haluskan bawang putih dan merica lalu masukkan ke dalam adonan tepung tadi.
3. Siapkan Loyang dan diolesi blueband
4. Ambil irisan roti dan celupkan ke dalam adonan. Letakkan didalam Loyang satu persatu sampai dasar Loyang tertutup rapi. Di atas lapisan roti bisa diatur setengah bagian dari daging, keju parut, bawang Bombay, tomat, paprika dan bawang pre.
5.Setelah itu, kembali masukkan roti ke dalam adonan dan diatur di dalam Loyang. Urutan ini diulang sampai bahan habis. Biasanya bahan tersebut diatas kita dapat atur menjadi 2 lapis. Pada lapisan terakhir kita akan atur daging dan keju parut.
6.Jangan lupa kalau kamu bias juga hias atasnya dengan saus tomat yang sudah dicairkan dan ditambah sedikit tepung terigu lalu disiram diatasnya sedikit demi sedikit. Jangan tutup keseluruhan bagian atas.
7. Loyang yang sudah terisi roti dan lapisannya siap dipanggang sampai matang. Tandanya matang, roti akan berwarna kecoklatan.
8. Roti panggang ini bisa dihidangkan untuk sarapan pagi atau teman minum the sore-sore. Kalau kamu penggemar makanan pedas, kamu bisa enjoy this snacks (?) dengan saus pedas.

Hmmm…sounds great, isn’t it? :wink:

waiting oh waiting…

How long I should wait again…
Do I really need an answer or I just questions an answer…

Is it simple???

“just another place to look at how life can be so simple as what is in our dream…”

Hmmm… it sounds great yach. It has been like an ages when I started making this blog and make that wise sentence. It doesn’t mean I change my mind tapi :wink: many things happen lately and seems so hard to deal with these situations.

(ah, pake bahasa Indonesia aja… pegel)
apa ini berarti aku lagi menyerah…? ngga juga kok. Mungkin hanya lelah.
Menjadi sensi juga karena mungkin menjelang melahirkan begini. Jadinya aku makin lebay :sad: ditambah my hubby yang seharusnya menjadi suami siaga, mendapat kecelakaan kecil dan mengakibatkan tangan kirinya retak. Tak berdaya…
Yach, life is not as simple as that I want but still I can twist my way of thinking to be simpler…

seperti burung

“Andai mama punya sayap”
Agi: “apa Ma?”
“Andai mama punya sayap…”
Agi: “kenapa?”
“Biar mama bisa terbang”
Agi: “kemana?”
“ke langit tinggiiiiiii sekali”
Agi: (merengek) “Jangan, Ma. Nanti siapa yang tidur sama Agi.”
“Kan Agi bisa tidur sama Abi…”
Agi: “kita ndak punya sayap tapi punya tangan ya, Ma…”
“iya, dan kita tidak bisa terbang. Mama pengen punya sayap seperti burung terus terbang terus terbang ke atas…”
Agi: “kayak (red.seperti) kupu-kupu juga ya, Ma… Di sekolah mama juga ada yang pake sayap… tapi dia ndak bisa terbang.”
“seperti kupu-kupu… bisa terbang…”
Agi: “Tapi mama jangan terbang… Agi mau mama disini. Selalu peluk Agi.”

:cry:

:cry:

:cry:

Older Posts »